Mengenal Suku Osing, Penduduk Asli Banyuwangi Beserta Budayanya

Salah satu wisatawan asing menari bersama penari Banyuwangi dalam gelaran Gandrung Sewu 2017.
Salah satu wisatawan asing menari bersama penari Banyuwangi dalam gelaran Gandrung Sewu 2017. (image source)

Suku Osing merupakan sebutan bagi mereka penduduk asli Banyuwangi. Mereka sejatinya adalah pengikut tetap dari kerajaan Blambangan yang dulu pernah bertahta kuat di tanah Banyuwangi. Namun seiring berjalannya waktu, Kerajaan Blambangan runtuh diketahui akibat dari masuknya ajaran Islam di daerah tersebut.

Sehingga agama asli Kerajaan Blambangan yang semuanya memeluk Hindu harus kalah dari Islam pada abad ke-14. Beberapa di antara mereka ada yang menyeberang ke Bali bersama dengan Kerajaan Majapahit. Mereka mempertahankan nilai-nilai agama Hindu di Kerajaan Karang Asem.

Awalnya, suku Osing yang masih berada di Banyuwangi menutup diri dari dunia luar. Namun sejak kedatangan Belanda pada abad ke-16, banyak hal yang berubah. Bahkan tidak sedikit dari Suku Osing yang bekerja dengan orang luar dan memeluk agama Islam.

Meski begitu, Suku Osing masih berusaha kental menjaga budaya mereka. Bahkan hingga saat ini. Sampai sekarang, yang paling terasa dari budaya Osing ada lima hal, yaitu:

1. Memiliki bahasa sendiri

Bahasa Suku Osing kurang lebih berbeda dengan bahasa jawa pada umumnya. Ahli bahasa mengatakan bahwa Bahasa Osing adalah bahasa Jawa Kuno. Yang mana bahasa ini berbeda di beberapa makna dan pelafalannya dengan bahasa jawa biasa.

2. Tumpeng Sewu

Tradisi makan besar di kalangan Suku Osing disebut dengan Tumpeng Sewu. Hingga saat ini Tumpeng Sewu masih eksis di tengah masyarakat Osing. Biasanya mereka melakukan hal tersebut pada bulan haji. Menurut suku Osing, upacara Tumpeng Sewu ini akan dapat menjauhkan semua warga atau individu masing-masing dari malapetaka. Istilahnya tolak bala.

Nah, makanannya pun tidak sembarangan. Harus tumpeng dengan lauk pecel pithik, yaitu ayam panggang yang diberi serutan kelapa dan bumbu khas Suku Osing.

3. Koloan

Tradisi Koloan ini biasanya dilakukan ketikan anak dari Suku Osing hendak melakukan khitan alias sunatan. Diharapkan dapat menggembleng si anak agar memiliki mental yang kuat. Koloan adalah upacara meneteskan darah ayam di kepala anak tersebut dengan cara disembelih ayamnya. Nah, untuk ayamnya sendri harus ayam jago merah yang masih perjaka.

4. Nginang

Sampai saat ini nginang masih eksis di Banyuwangi. Suku Osing mengunakan pinang, gambir, dan kapur sirih yang kemudian digulung menjadi satu di daun sirih. Saking eksisnya di Banyuwangi masih ada lomba nginang, lho! Keren!

5. Mepe kasur

Mepe Kasur dalam bahasa jawa atau bahasa Osing berarti menjemur kasur. Banyak orang melakukan ini dengan alasan basah. Namun bagi Suku Osing, Mepe Kasur dilakukan untuk acara selamatan desa pada bulan Dzulhijjah. Mereka yakin bahwa dengan Mepe Kasur dapat menolak bala dan kelanggengan keluarga.

Komentar warganet!
SHARE