4 Budaya Bali Yang Nyaris Punah

Budaya dan tradisi memang tidak seharusnya ditinggalkan. Apalagi jika sampai punah. Identitas apa yang akan kita miliki nanti?

Di perkembangan zaman yang makin maju ini, sangat sulit mempertahankan nilai-nilai budaya lokal karena mulai tergerus dengan modernisasi dan pengaruh budaya luar. Terlebih lagi di Pulau Bali yang notabene sangat rentan dengan hal tersebut. Bagaimana tidak? Setiap hari selalu ada wisatawan asing yang datag ke Bali dan secara tidak langsung hal tersebut akan mempengaruhi budaya dan tradisi di sana.

Memang kita tidak bisa menyalahkan mereka yang datang ke Bali. Namun hal itu juga merupakan tanggung jawab masyarakat Bali untuk melestarikan budaya. Setidaknya ada empat budaya di Bali yang hampir punah sekarang ini. Mari kita bahas satu per satu.

1. Aksara Bali

Aksara Bali. (Universitas Udayana, Bali - www.unud.ac.id)
Aksara Bali. (Universitas Udayana, Bali)

Aksara Bali memang saat ini jarang digunakan di Bali. Salah satu penyebabnya adalah pustaka leluhur yang semakin ditinggalkan. Aksara Bali menjadi kian miskin dan rapuh, bahkan tidak sempat berkembang.

Memang, ada kurikulum di sekolah yang digadang-gadang akan dapat melestarikan Aksara Bali. Akan tetapi dunia pendidikan memerlukan alat bantu dan penerbitan literatur yang bermutu. Generasi muda Bali hanya sedikit yang mengerti dengan Aksara Bali karena saking jarangnya digunakan.

2. Arsitektur Rumah Bali

Rumah Tradisional Bali.
Rumah Tradisional Bali. (image source)

Dulu, bali sangat ketat dalam hal pembangunan, yang dikenal dengan istilah Konsep Tata Ruang Tri Loka dan Tri Angga. Tidak ada satu orang pun yang berani melanggar titah leluhur mengenai bangunan rumah. Semua bangunan pada jaman ini dibuat secara praktis, ekonomis dan kalau seandainya bisa, mengerjakan bangunan ingin dapat diselesaikan dalam waktu semalam. Pengerjaan bangunan tanpa memandang lagi pakem yang sudah pernah ada, semua dihantam rata. Tidak perlu mencari hari baik untuk memulai pekerjaan, apalagi untuk mencari bahan bangunan. Arsitektur bangunan sudah tidak mencerminkan Bali, terutama di pusat kota.

Seandainya orang Bali sudah tidak berminat lagi untuk mempergunakan arsitektur Bali, maka Bali akan menjadi asing di tanahnya sendiri. Karena perkembangan jaman dan perkembangan manusia, bangunan bertingkat tinggi akan segera merambah Bali.

3. Tari Jongko

Salah satu tarian bali yang masih dilestarikan hingga saat ini, tetapi bukan tari jongko.
Salah satu tarian bali yang masih dilestarikan hingga saat ini, tetapi bukan tari jongko. (image source)

Ini adalah Tarian khas Desa Belantih, Kec. Kintamani, Kab. Bangli. Tarian ini mengisahkan perlawanan Desa Belantih kepada Belanda. Sayang, kini tarian ini sulit untuk ditemui lantaran tidak ada lagi penerus untuk melestarikan kebudayaan ini.

4. Sistem Subak

Sistem Subak untuk mengatur pengairan sawah di Bali
Sistem Subak untuk mengatur pengairan sawah di Bali. (image source)

Di era seperti ini hampir semua pemilik sawah di Bali telah menjadi properti dan sistem pembagian air pun mulai terlupakan. Sesungguhnya dengan sistem subak masyarakat kearifan lokal tetap terjaga. Para pemilik sawah sudah sepatutnya menyadari bahwa dengan menjual sawah menjadi property memuat kearifan lokal punah dan beras berkurang.

Komentar warganet!
SHARE